Visi Misi

Halaman

Senin, 25 Oktober 2021

SI A-Tugas 2-Tegar Maulidzar

 

Nama: Tegar Maulidzar

NIM: 21051117

Prodi: Sistem Informasi

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia

 

Pertanyaan Kel 

 1. Untuk bahasa asing dalam sebuah buku cerita atau novel dan majalah lain nya apakah harus ditulis miring? Jelaskan alasannya!

2. Gabungan kata dapat menimbulkan kesalahan pengertian, bagaimana cara agar gabungan kata tersebut tidak disalah artikan? Berikan contoh nya!

3. Menurut kalian, apakah akronim dapat memperkaya atau malah merusak bahasa Indonesia?

 

Jawaban

1. Kata asing yang ditulis dengan huruf kecil harus di tulis miring, sedangkan kata asing yang di tulis dengan huruf KAPITAL jangan ditulis miring. Untuk nama orang atau nama sebuah organisasi walaupun menggunakan bahasa asing jangan ditulis miring 

2. Agar gabungan kata tidak disalah artikan, kita harus tau  arti dari kata-kata yang digabungkan tersebut dan memahami arti dari penggabungan kata nya. Contoh nya Bergotong royong dan Rumah Sakit 

3. Dapat memperkaya, karena dari singkatan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Contoh nya Sembako (Sembilan bahan pokok) dan NIM (Nomor Induk Mahasiswa)

Sabtu, 16 Oktober 2021

SI A-TUGAS 1-TEGAR MAULIDZAR

Pertanyaan Kel 1

1.       Sebutkan lahirnya bahasa Indonesia secara politis dan yuridis!

2.       Jelaskan implikasi praktis bahasa Indonesia!

3.      Tuliskan alur perkembangaan sistem ejaan bahasa Indonesia!

 

Jawaban

1.       Secara politis Bahasa Indonesia sudah lahir sejak 28 Oktober 1928 saat Bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan.  Secara yuridis Bahasa Indonesia lahir pada 18 Agustus 1945 ketika UUD 1945 resmi diundangkan yaitu pada pasal 36 UUD 1945 telah disebutkan bahwa bahasa negara adalah Bahasa Indonesia.

2.       Yaitu dampak yang di timbulkan akibat penggunaan bahasa Indonesia di kehidupan

3.       • Ejaan van Ophuijsen

Pada tahun 1901 ditetapkan ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin yang

disebut dengan Ejaan van Ophuijsen. Van Ophuijsen merancang ejaan tersebut

dibantu oleh Engku Namawi dan Engku Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan

berupa (1) huruf j untuk menuliskan kata-kata: jang, pajah, sajang dan (b) huruf oe

untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.

        • Ejaan Soewandi

Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan dan diberi julukan ejaan

Republik.

Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah (1) huruf oe diganti dengan u, seperti

pada kata: guru, itu, umur dan (2) kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti:

anak2, berjalan2, kebarat2an.

                • Ejaan Melindo

Pada akhir tahun 1959 sidang pemutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh

Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal

dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama

tahun-tahun berikutnya antara Indonesia dengan Malaysia mengurungkan peresmian

ejaan ini.

        • Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)

Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian

Ejaan Bahasa Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul

Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagai patokan pemakian ejaan itu.